Alkohol tidak hanya ditemukan dalam minuman seperti bir, anggur, atau minuman beralkohol lainnya. Sejumlah makanan sehari-hari juga dapat mengandung etanol dalam kadar rendah. Kandungan tersebut biasanya terbentuk secara alami melalui fermentasi gula oleh ragi atau mikroorganisme. Jumlahnya berbeda tergantung bahan, proses pembuatan, penyimpanan, dan tingkat kematangan makanan.
Pertama adalah pisang matang, terutama ketika buah sudah sangat matang. Penelitian menunjukkan proses pematangan dapat menghasilkan sejumlah kecil etanol secara alami. Kedua adalah roti yang dibuat menggunakan ragi. Fermentasi adonan menghasilkan karbon dioksida dan etanol sebelum proses pemanggangan berlangsung. Sebagian besar alkohol menguap ketika dipanggang, tetapi sejumlah kecil dapat tetap tersisa.
Ketiga adalah yoghurt dan produk susu fermentasi tertentu. Mikroorganisme dalam proses fermentasi dapat menghasilkan alkohol dalam jumlah sangat kecil. Keempat adalah kecap yang dibuat melalui proses fermentasi kedelai dan bahan lainnya. Proses tersebut dapat menghasilkan etanol sebagai salah satu produk fermentasi. Kadar akhirnya berbeda berdasarkan metode produksi dan jenis kecap yang digunakan.
Kelima adalah jus buah, terutama ketika disimpan cukup lama setelah kemasan dibuka. Gula alami dalam buah dapat mengalami fermentasi akibat aktivitas ragi. Penelitian pada beberapa produk makanan menemukan kadar etanol berbeda pada jus apel, jus anggur, dan produk berbasis buah. Kondisi penyimpanan dapat memengaruhi perubahan kadar alkohol selama produk disimpan.
Namun, keberadaan etanol alami tidak otomatis membuat makanan tersebut setara dengan minuman beralkohol. Kadarnya umumnya sangat rendah dan merupakan konsekuensi alami fermentasi atau pematangan. Konsumen dengan kebutuhan khusus tetap perlu memperhatikan label serta proses pembuatan produk. Pemahaman tersebut penting karena etanol ternyata dapat ditemukan dalam berbagai makanan tanpa sengaja ditambahkan sebagai minuman beralkohol.