Cara orang tua berkomunikasi memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan emosional anak. Kalimat yang terdengar sepele dapat membentuk rasa percaya diri, pola pikir, hingga hubungan anak dengan orang tua. Psikolog menyarankan orang tua lebih berhati-hati memilih kata saat menghadapi perilaku anak. Komunikasi yang positif dinilai lebih efektif dibandingkan ucapan yang menghakimi atau merendahkan.
Beberapa kalimat sebaiknya dihindari karena berpotensi melukai perasaan anak. Contohnya adalah “Kamu selalu bikin masalah”, “Kenapa tidak seperti kakakmu?”, dan “Jangan menangis”. Ucapan tersebut dapat membuat anak merasa tidak dihargai atau menekan emosinya sendiri. Kalimat “Karena Ayah atau Ibu bilang begitu” juga sebaiknya tidak menjadi jawaban utama saat anak bertanya.
Kalimat lain yang perlu dihindari adalah “Kamu membuat Ayah atau Ibu malu”, “Kalau begitu, Ayah atau Ibu pergi saja”, dan “Kamu memang malas”. Psikolog menilai ucapan tersebut dapat memengaruhi harga diri serta rasa aman anak. Sebagai gantinya, orang tua disarankan menjelaskan perilaku yang perlu diperbaiki tanpa memberi label negatif. Pendekatan tersebut membantu anak memahami kesalahan tanpa merasa dirinya buruk.
Orang tua juga dianjurkan lebih sering menggunakan kalimat yang menunjukkan empati dan dukungan. Mendengarkan perasaan anak sebelum memberikan nasihat dapat memperkuat hubungan emosional dalam keluarga. Komunikasi yang hangat membantu anak merasa aman untuk menyampaikan pikiran dan perasaannya. Dengan memilih kata yang tepat, orang tua dapat mendukung tumbuh kembang anak sekaligus membangun kepercayaan yang kuat sejak dini.