Keinginan mengubah hidup menjadi lebih baik sering membuat seseorang bertanya mengenai langkah yang harus didahulukan. Sebagian orang memilih memperbaiki pola pikir atau mindset. Sebagian lainnya memperbanyak dzikir agar hati lebih tenang. Menanggapi hal tersebut, pendakwah KH Yahya Zainul Ma’arif atau Buya Yahya memberikan penjelasan dalam sebuah kajian. Menurutnya, dzikir dan mindset bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan. Keduanya justru saling melengkapi dalam membentuk pribadi yang lebih baik.
Buya Yahya menjelaskan bahwa dzikir memiliki pengaruh besar karena mendekatkan hati kepada Allah SWT. Dzikir bukan sekadar bacaan yang diucapkan oleh lisan. Amalan tersebut juga menjadi bentuk penghambaan dan pengingat agar manusia selalu bergantung kepada Allah. Ketika hati dipenuhi dzikir, seseorang akan memperoleh ketenangan dan lebih mudah menerima setiap ketentuan hidup. Dari ketenangan itulah lahir cara berpikir yang lebih jernih dalam menghadapi berbagai persoalan.
Menurut Buya Yahya, mindset yang baik juga memiliki peran penting dalam menjalani kehidupan. Namun, pola pikir yang benar seharusnya dibangun di atas keimanan dan kedekatan kepada Allah SWT. Ia menilai perubahan hidup tidak cukup hanya mengandalkan motivasi atau sugesti diri. Seseorang tetap membutuhkan pertolongan Allah melalui doa, dzikir, dan ibadah yang dilakukan dengan ikhlas. Karena itu, dzikir dapat menjadi fondasi yang membentuk pola pikir positif sekaligus memperkuat keyakinan dalam menjalani kehidupan.
Buya Yahya mengajak umat Islam untuk tidak memilih antara dzikir atau mindset, melainkan menggabungkan keduanya dalam kehidupan sehari-hari. Dzikir menjaga hubungan manusia dengan Allah SWT, sedangkan mindset membantu seseorang mengambil keputusan yang bijaksana. Ketika keduanya berjalan seiring, seseorang akan lebih siap menghadapi ujian, memperbaiki diri, dan terus berusaha meraih kehidupan yang lebih baik. Dengan begitu, perubahan tidak hanya terlihat pada tindakan, tetapi juga tumbuh dari hati yang tenang dan penuh keimanan.