Banyak orang kesulitan membuang barang meski sudah lama tidak digunakan. Alasannya sering kali bukan karena nilai barang tersebut. Faktor psikologis justru memiliki peran besar dalam kebiasaan menumpuk barang. Pola pikir tertentu membuat seseorang merasa berat melepaskan benda yang sebenarnya tidak lagi dibutuhkan. Jika terus dibiarkan, kebiasaan itu dapat membuat rumah terasa sesak dan mengganggu kenyamanan. Dalam kondisi tertentu, perilaku tersebut bahkan dapat berkembang menjadi hoarding disorder atau gangguan menimbun barang.
Salah satu pola pikir yang paling umum adalah anggapan bahwa barang akan berguna suatu hari nanti. Seseorang terus menyimpan barang karena takut membutuhkannya di masa depan. Ada pula yang merasa setiap barang memiliki nilai sentimental sehingga sulit dilepaskan. Sebagian orang khawatir membuang barang berarti menghilangkan kenangan berharga. Perasaan bersalah juga sering muncul ketika barang masih terlihat layak pakai. Psikolog menyebut pola pikir tersebut dapat memperkuat kebiasaan menyimpan barang secara berlebihan.
Pola pikir perfeksionis juga dapat menghambat proses membuang barang. Seseorang ingin memastikan barang berpindah ke tempat yang dianggap paling tepat. Akibatnya, keputusan terus ditunda hingga barang menumpuk di berbagai sudut rumah. Ketakutan membuat keputusan yang salah juga mempersulit proses memilah barang. Kondisi tersebut sering menimbulkan stres dan mengganggu aktivitas sehari-hari. Rumah yang dipenuhi barang bahkan dapat memengaruhi kualitas hidup serta hubungan sosial.
Psikolog menyarankan memulai decluttering secara bertahap agar proses terasa lebih ringan. Pilih barang yang tidak digunakan selama enam hingga dua belas bulan terakhir. Tanyakan apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan dalam waktu dekat. Barang yang masih layak pakai dapat didonasikan atau dijual kembali. Cara tersebut membantu mengurangi rasa bersalah saat melepaskan barang. Lingkungan rumah yang lebih rapi juga terbukti membantu menciptakan pikiran lebih tenang dan meningkatkan fokus.