Tahun ajaran baru identik dengan pembelian perlengkapan sekolah, seperti tas, sepatu, alat tulis, dan seragam. Momen ini sering dimanfaatkan orang tua untuk memenuhi kebutuhan belajar anak. Namun, psikolog mengingatkan munculnya tren gengsi di kalangan anak terkait merek dan harga perlengkapan sekolah. Kondisi tersebut dapat memengaruhi rasa percaya diri maupun hubungan pertemanan. Karena itu, orang tua perlu membantu anak memahami makna perlengkapan sekolah yang sebenarnya.
Psikolog menjelaskan anak usia sekolah mulai peka terhadap penilaian teman sebaya. Mereka dapat membandingkan barang yang dimiliki dengan milik teman di kelas. Jika tidak didampingi, anak mungkin menganggap barang bermerek sebagai ukuran penerimaan sosial. Pola pikir tersebut berisiko memunculkan rasa rendah diri atau keinginan mengikuti tren secara berlebihan. Orang tua dianjurkan mengajarkan bahwa fungsi dan manfaat barang lebih penting daripada merek atau harga.
Salah satu cara mencegah gengsi adalah melibatkan anak saat memilih perlengkapan sekolah sesuai kebutuhan. Diskusikan anggaran keluarga agar anak memahami pentingnya mengelola pengeluaran secara bijak. Orang tua juga dapat mengajarkan rasa syukur terhadap barang yang dimiliki. Hindari membandingkan perlengkapan anak dengan milik saudara atau teman. Guru dan sekolah juga memiliki peran menciptakan lingkungan yang menghargai keberagaman tanpa membedakan latar belakang ekonomi siswa.
Para ahli menilai pendidikan karakter perlu dimulai dari lingkungan keluarga sejak dini. Anak yang memahami nilai kesederhanaan cenderung lebih percaya diri dan tidak mudah terpengaruh tekanan sosial. Orang tua juga sebaiknya memberikan teladan dalam menggunakan barang sesuai kebutuhan. Apabila anak mulai merasa minder karena perlengkapan sekolah, ajak berdiskusi dengan tenang tanpa menyalahkan perasaannya. Dukungan keluarga dan lingkungan sekolah yang positif membantu anak membangun kepercayaan diri berdasarkan kemampuan serta karakter, bukan kepemilikan barang.