Jepang kembali menghadapi gelombang panas ekstrem pada musim panas 2026 dengan suhu di sejumlah wilayah menembus 40 derajat Celsius. Kondisi tersebut memunculkan fenomena yang dikenal sebagai kokushobi, yaitu hari ketika suhu maksimum mencapai atau melampaui 40 derajat Celsius. Istilah itu berasal dari Badan Meteorologi Jepang atau Japan Meteorological Agency. Fenomena ini menjadi perhatian karena berpotensi meningkatkan risiko gangguan kesehatan hingga kematian akibat sengatan panas.
Gelombang panas melanda sejumlah prefektur, termasuk Gunma, Saitama, Gifu, dan Kyoto. Otoritas setempat mengeluarkan peringatan agar masyarakat mengurangi aktivitas luar ruangan pada siang hari. Warga juga diminta menggunakan pendingin ruangan, memperbanyak minum air, serta memanfaatkan tempat berteduh ketika beraktivitas. Lansia, anak-anak, dan pekerja luar ruangan menjadi kelompok yang paling rentan mengalami heatstroke atau sengatan panas. Pemerintah daerah turut membuka pusat pendinginan bagi masyarakat di beberapa lokasi.
Badan Meteorologi Jepang menjelaskan suhu tinggi dipengaruhi sistem tekanan udara yang kuat dan kondisi atmosfer yang stabil. Kombinasi tersebut membuat panas terperangkap sehingga suhu meningkat tajam di berbagai wilayah. Para ilmuwan juga menilai perubahan iklim berkontribusi terhadap meningkatnya frekuensi gelombang panas ekstrem di Jepang. Dalam beberapa tahun terakhir, negara itu semakin sering mencatat rekor suhu tertinggi pada musim panas. Kondisi tersebut berdampak pada kesehatan, pertanian, hingga sektor pariwisata.
Wisatawan yang berkunjung ke Jepang selama musim panas diimbau mempersiapkan diri menghadapi cuaca ekstrem. Penggunaan pakaian ringan, topi, tabir surya, serta konsumsi cairan yang cukup menjadi langkah penting untuk mencegah dehidrasi. Aktivitas wisata sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari ketika suhu lebih rendah. Dengan meningkatkan kewaspadaan, masyarakat dan wisatawan dapat mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat fenomena kokushobi yang semakin sering terjadi.