Perkembangan teknologi mengubah cara anak belajar, bermain, dan berkomunikasi setiap hari. Karena itu, peran orang tua juga perlu menyesuaikan perubahan zaman. Psikolog menilai pendekatan terbaik bukan melarang penggunaan gawai sepenuhnya, melainkan mendampingi anak agar mampu memanfaatkan teknologi secara sehat dan bertanggung jawab. Pengasuhan digital yang efektif dibangun melalui komunikasi, kepercayaan, dan aturan yang disepakati bersama.
Psikolog anak Vera Itabiliana Hadiwidjojo menekankan bahwa orang tua merupakan pendidik pertama bagi anak, termasuk di ruang digital. Hubungan yang hangat membuat anak lebih nyaman bercerita ketika menemukan konten yang membingungkan atau berisiko. Dengan demikian, orang tua tidak hanya berperan sebagai pengawas, tetapi juga menjadi teman berdiskusi. Pendekatan tersebut membantu anak tumbuh sebagai pengguna teknologi yang bijak dan bertanggung jawab.
Selain membangun komunikasi, aturan penggunaan gawai perlu diterapkan secara konsisten oleh seluruh anggota keluarga. Psikolog Nuraida Wahyu menjelaskan pembatasan tidak akan efektif jika ada anggota keluarga lain yang memberikan akses tanpa pengawasan. Orang tua juga perlu menjadi teladan dengan tidak terlalu sering menggunakan ponsel saat bersama anak. Anak cenderung meniru kebiasaan yang mereka lihat setiap hari dibanding hanya mendengarkan nasihat.
Para ahli menyarankan keluarga menyediakan waktu khusus tanpa gawai untuk memperkuat interaksi langsung. Aktivitas seperti makan bersama, membaca buku, atau berolahraga dapat mempererat hubungan emosional. Teknologi sebaiknya dipandang sebagai alat yang mendukung proses belajar, bukan sebagai pengganti kehadiran orang tua. Dengan mampu beradaptasi terhadap perkembangan digital, orang tua dapat membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang cakap teknologi sekaligus memiliki karakter, empati, dan kemampuan bersosialisasi yang baik.