Sharenting: Merekam Tumbuh Kembang, Menggadaikan Privasi Anak?

0 0
Read Time:1 Minute, 9 Second

Membagikan foto dan video anak di media sosial telah menjadi kebiasaan banyak orang tua. Praktik ini dikenal sebagai sharenting, yaitu mengunggah kehidupan anak di ruang digital. Tujuannya sering kali untuk berbagi kebahagiaan dengan keluarga atau teman. Namun, para pakar mengingatkan bahwa setiap unggahan dapat meninggalkan jejak digital yang bertahan dalam waktu sangat lama.

UNICEF menjelaskan bahwa sharenting bukan selalu tindakan yang salah. Namun, orang tua perlu mempertimbangkan hak privasi dan persetujuan anak sebelum mengunggah konten. Informasi seperti nama lengkap, lokasi rumah, sekolah, atau rutinitas harian sebaiknya tidak dipublikasikan secara terbuka. Unggahan yang tampak sederhana dapat dimanfaatkan pihak tidak bertanggung jawab untuk pencurian identitas, penyalahgunaan foto, hingga penipuan digital.

Sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa sharenting berlebihan dapat memengaruhi otonomi dan identitas digital anak. Ketika tumbuh dewasa, anak mungkin merasa tidak nyaman karena momen pribadinya telah tersebar di internet tanpa persetujuannya. Para peneliti menemukan bahwa sebagian orang tua memahami risikonya, tetapi tetap mengunggah konten karena ingin berbagi pengalaman atau mendapat respons positif dari media sosial.

Para ahli menyarankan orang tua berpikir sejenak sebelum menekan tombol unggah. Pertimbangkan apakah konten tersebut benar-benar diperlukan dan aman bagi anak di masa depan. Jika ingin berbagi momen keluarga, gunakan pengaturan privasi yang lebih ketat dan hindari informasi yang dapat mengungkap identitas anak. Dengan pendekatan yang bijak, orang tua tetap dapat mengabadikan tumbuh kembang buah hati tanpa mengorbankan hak privasi dan keamanan digital mereka.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %