Istilah soft parenting dan gentle parenting semakin sering muncul dalam pembahasan pola asuh anak di media sosial. Keduanya kerap dianggap sama karena menekankan pendekatan lembut terhadap anak. Padahal, gentle parenting tetap melibatkan aturan, batasan, dan konsekuensi yang diterapkan secara konsisten. Sementara soft parenting sering digunakan untuk menggambarkan pola asuh yang terlalu longgar.
Gentle parenting mengutamakan empati, rasa hormat, komunikasi, dan pemahaman terhadap kebutuhan perkembangan anak. Orang tua tetap dapat mengatakan tidak ketika perilaku anak melewati batas. Namun, aturan disampaikan tanpa kekerasan, ancaman, atau mempermalukan anak. Pendekatan ini berusaha memahami emosi anak sambil tetap mengajarkan perilaku yang dapat diterima.
Soft parenting bukan istilah ilmiah dengan definisi baku dalam psikologi perkembangan. Di media sosial, istilah tersebut sering digunakan untuk pola pengasuhan yang minim batasan dan konsekuensi. Orang tua mungkin terlalu sering mengalah demi menghindari konflik atau tangisan anak. Gambaran tersebut lebih mendekati pola permissive parenting dalam literatur psikologi.
Perbedaan utamanya terletak pada penerapan batasan dan respons terhadap perilaku anak. Gentle parenting tetap memberikan aturan jelas sambil mengakui perasaan anak. Sebaliknya, pola asuh terlalu permisif dapat membuat aturan tidak konsisten atau mudah berubah. Anak tetap membutuhkan struktur untuk memahami tanggung jawab, keamanan, dan konsekuensi dari tindakannya.
Tidak ada satu pendekatan pengasuhan yang menjamin perkembangan anak berjalan sempurna dalam setiap keluarga. Orang tua dapat menyesuaikan strategi berdasarkan usia, karakter, kebutuhan, dan situasi anak. Sikap hangat dapat berjalan bersama aturan yang jelas dan konsisten. Karena itu, gentle parenting bukan berarti selalu menuruti anak, melainkan membimbing tanpa mengabaikan batasan.