Cara orangtua berbicara kepada anak dapat memengaruhi perasaan, kepercayaan diri, dan hubungan dalam keluarga. Kalimat yang terdengar sederhana terkadang memiliki dampak berbeda bagi anak. Terutama ketika kalimat tersebut disampaikan dengan marah, merendahkan, atau berulang kali. Karena itu, orangtua perlu memperhatikan pilihan kata ketika menghadapi perilaku anak yang tidak sesuai harapan.
Kalimat pertama yang sebaiknya dihindari adalah, “Kenapa kamu tidak seperti kakak atau temanmu?” Membandingkan anak dapat membuat mereka merasa kemampuan dan kepribadiannya tidak cukup dihargai. American Academy of Pediatrics menyarankan orangtua menghindari perbandingan antara saudara. Setiap anak memiliki karakter, kemampuan, dan kebutuhan perkembangan yang berbeda.
Kalimat kedua adalah, “Kamu selalu bikin masalah.” Pernyataan tersebut memberikan label negatif terhadap diri anak, bukan membahas perilaku tertentu yang perlu diperbaiki. Orangtua dapat menggantinya dengan penjelasan mengenai tindakan yang dianggap kurang tepat. Pendekatan tersebut membantu anak memahami kesalahan tanpa merasa seluruh dirinya dinilai buruk.
Kalimat ketiga adalah, “Berhenti menangis, tidak ada yang perlu ditangisi.” Anak membutuhkan kesempatan mengenali dan mengekspresikan emosi yang sedang dirasakan. Mengabaikan perasaan dapat membuat anak merasa emosinya tidak diterima. Orangtua dapat mengakui perasaan anak terlebih dahulu sebelum membantu mencari penyelesaian masalah.
Komunikasi positif bukan berarti orangtua harus selalu menyetujui semua tindakan anak. Batasan dan aturan tetap diperlukan untuk membantu mereka memahami perilaku yang dapat diterima. Namun, koreksi sebaiknya diarahkan pada perilaku tanpa menyerang karakter anak. Orangtua juga dapat meminta maaf apabila terlanjur mengucapkan sesuatu yang menyakitkan. Kebiasaan mendengarkan dan memberikan respons tenang dapat membantu membangun hubungan keluarga yang lebih aman.