Air Susu Ibu (ASI) perah sering menjadi solusi bagi ibu yang bekerja atau tidak selalu dapat menyusui secara langsung. Dalam praktiknya, banyak ibu bertanya apakah ASI yang diperah pada jam berbeda boleh dicampur dalam satu wadah. Secara umum, hal tersebut diperbolehkan selama dilakukan dengan cara yang benar dan memperhatikan keamanan penyimpanan. Pedoman ini juga didukung oleh berbagai organisasi kesehatan, termasuk Centers for Disease Control and Prevention (CDC).
Hal yang perlu diperhatikan adalah suhu ASI sebelum dicampurkan. ASI yang baru diperah sebaiknya tidak langsung ditambahkan ke dalam ASI yang sudah didinginkan di lemari es. ASI segar perlu didinginkan terlebih dahulu hingga memiliki suhu yang sama. Setelah keduanya sama-sama dingin, ASI dapat digabungkan dalam satu wadah yang bersih dan steril. Cara ini membantu menjaga kualitas serta mengurangi risiko pertumbuhan bakteri.
Saat mencampurkan ASI, gunakan tanggal dan waktu pemerahan yang paling lama sebagai acuan masa penyimpanan. Misalnya, jika ASI diperah pada pagi dan sore hari lalu digabungkan, batas penyimpanan mengikuti waktu pemerahan pagi. Penyimpanan juga harus sesuai dengan rekomendasi suhu, baik di lemari pendingin maupun freezer. Wadah penyimpanan sebaiknya diberi label tanggal agar lebih mudah dipantau.
Selain memperhatikan cara penyimpanan, kebersihan saat memerah ASI juga sangat penting. Ibu perlu mencuci tangan sebelum memerah serta memastikan pompa, botol, dan wadah penyimpanan telah dibersihkan dengan baik. Hindari mencampurkan ASI yang sudah diminum bayi dengan ASI yang masih bersih karena dapat meningkatkan risiko kontaminasi bakteri. ASI yang tersisa setelah sesi menyusu sebaiknya digunakan sesuai anjuran penyimpanan atau dibuang bila telah melewati batas waktu aman.
Mencampurkan ASI perah dari waktu berbeda dapat menjadi cara praktis untuk mengelola persediaan ASI. Namun, proses tersebut harus dilakukan dengan memperhatikan suhu, kebersihan, dan masa penyimpanan. Dengan penanganan yang tepat, kualitas ASI tetap dapat terjaga sehingga bayi memperoleh nutrisi yang optimal. Jika memiliki bayi dengan kondisi kesehatan tertentu atau lahir prematur, ibu sebaiknya berkonsultasi dengan dokter atau konselor laktasi mengenai cara penyimpanan ASI yang paling sesuai.