Gumoh merupakan kondisi yang umum terjadi pada bayi, terutama saat berusia 2 hingga 5 bulan. Kondisi ini terjadi karena katup antara kerongkongan dan lambung belum berkembang sempurna sehingga susu lebih mudah keluar kembali setelah menyusu.
Sebagian besar gumoh tidak berbahaya dan akan berkurang seiring pertumbuhan bayi. Pada umumnya, frekuensi gumoh mulai menurun setelah usia enam bulan dan menghilang saat bayi berusia sekitar 12 hingga 18 bulan.
Untuk mengurangi gumoh, orang tua dapat memberikan ASI atau susu dalam porsi lebih sedikit tetapi lebih sering. Bayi juga sebaiknya disendawakan setelah menyusu dan diposisikan tegak selama sekitar 20–30 menit.
Orang tua tidak perlu panik jika bayi tetap aktif, berat badannya bertambah sesuai usia, dan tidak menunjukkan tanda-tanda sakit. Gumoh berbeda dengan muntah yang keluar lebih kuat dan dapat menjadi tanda gangguan kesehatan tertentu.
Namun, segera konsultasikan ke dokter jika gumoh disertai muntah berwarna hijau atau berdarah, berat badan sulit naik, bayi tampak lemas, sulit menyusu, atau mengalami gangguan pernapasan. Gejala tersebut dapat mengindikasikan kondisi medis yang memerlukan penanganan lebih lanjut.
Para ahli menegaskan bahwa gumoh merupakan bagian dari proses perkembangan bayi. Dengan teknik menyusui yang tepat dan pemantauan rutin terhadap tumbuh kembangnya, sebagian besar bayi akan melewati fase ini tanpa menimbulkan masalah serius.