Kawasan ASEAN diperkirakan memasuki periode berisiko tinggi terhadap Gelombang Panas yang dapat berlangsung selama beberapa bulan. Prakiraan iklim terbaru menunjukkan potensi berkembangnya El Niño pada pertengahan hingga akhir 2026 yang berisiko meningkatkan suhu di sejumlah negara Asia Tenggara.
Dalam Buletin Prakiraan Iklim ASEAN, sebagian besar model cuaca memprediksi El Niño akan berkembang mulai Juni hingga Agustus 2026. Kondisi tersebut berpotensi memicu cuaca lebih panas dan kering di beberapa wilayah, meski dampaknya dapat berbeda di setiap negara.
Pusat Meteorologi ASEAN (ASMC) juga memperkirakan suhu di kawasan maritim Asia Tenggara, termasuk Indonesia dan Malaysia, berpeluang berada di atas normal pada musim kemarau tahun ini. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko kekeringan, kebakaran hutan, dan gangguan kesehatan akibat paparan panas.
Meski demikian, BMKG sebelumnya menegaskan bahwa kondisi panas di Indonesia tidak selalu dapat dikategorikan sebagai gelombang panas. Hal itu karena Indonesia memiliki karakteristik iklim tropis yang berbeda dengan negara-negara subtropis yang lebih sering mengalami heatwave ekstrem.
Para ahli mengimbau masyarakat memperbanyak konsumsi air putih, mengurangi aktivitas luar ruangan saat siang hari, serta mewaspadai gejala kelelahan akibat panas. Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan pekerja luar ruangan perlu mendapat perhatian lebih selama periode suhu tinggi.
Pemerintah di negara-negara ASEAN juga terus memantau perkembangan cuaca melalui lembaga meteorologi masing-masing. Masyarakat diminta mengikuti informasi resmi agar dapat mengantisipasi dampak cuaca ekstrem selama musim kemarau 2026.