Gelombang Panas ekstrem kembali melanda sejumlah negara di Eropa. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat lebih dari 1.300 orang meninggal dunia akibat cuaca panas berkepanjangan yang memicu krisis kesehatan di berbagai wilayah.
Prancis menjadi salah satu negara yang terdampak paling parah. Selain meningkatnya angka kematian, rumah sakit dipenuhi pasien akibat dehidrasi dan serangan panas. Suhu di beberapa negara bahkan menembus 40 derajat Celsius dan memecahkan rekor musim panas.
Gelombang panas juga memicu kebakaran hutan, mengganggu transportasi, serta membebani pasokan listrik di sejumlah negara. Para ilmuwan menyebut perubahan iklim akibat aktivitas manusia membuat kejadian panas ekstrem seperti ini menjadi jauh lebih sering dan lebih intens dibandingkan beberapa dekade lalu.
WHO mengingatkan kelompok lansia, anak-anak, penderita penyakit kronis, dan pekerja luar ruangan menjadi pihak yang paling rentan. Masyarakat diminta memperbanyak minum air putih, menghindari aktivitas di bawah terik matahari, serta segera mencari pertolongan medis jika mengalami gejala kelelahan akibat panas.
Sejumlah pemerintah di Eropa telah mengeluarkan peringatan cuaca ekstrem dan membuka pusat pendingin bagi warga. Otoritas juga mengimbau masyarakat terus memantau informasi resmi karena suhu tinggi diperkirakan masih akan berlanjut di beberapa wilayah dalam beberapa hari ke depan.