Stoicism Mindset kembali populer di media sosial sebagai pendekatan untuk menghadapi tekanan dan komentar negatif. Berasal dari filsafat Yunani Kuno, stoisisme mengajarkan seseorang agar tetap tenang, mengendalikan emosi, dan fokus pada hal-hal yang berada dalam kendalinya.
Filsafat ini pertama kali dikembangkan oleh Zeno of Citium sekitar abad ke-3 sebelum Masehi. Tokoh-tokoh seperti Epictetus, Seneca, dan Marcus Aurelius kemudian mengembangkan ajaran tersebut hingga masih dipelajari dan diterapkan dalam kehidupan modern.
Salah satu prinsip utama stoicism adalah membedakan antara hal yang dapat dikendalikan dan yang tidak. Pendapat orang lain, komentar di media sosial, maupun penilaian publik termasuk hal yang berada di luar kendali.
Karena itu, memilih diam saat menerima komentar negatif bukan berarti lemah atau menyerah. Dalam stoicism, diam dapat menjadi bentuk pengendalian diri agar seseorang tidak bereaksi secara impulsif dan tetap mengambil keputusan dengan pikiran yang jernih.
Meski demikian, para psikolog mengingatkan bahwa stoicism tidak berarti memendam semua emosi. Seseorang tetap perlu mengekspresikan perasaan dengan cara yang sehat, terutama jika menghadapi tekanan yang berkepanjangan atau memengaruhi kesehatan mental.
Dengan menerapkan stoicism mindset secara bijak, seseorang dapat lebih tenang menghadapi kritik, tidak mudah terpancing provokasi, serta lebih fokus pada tindakan yang membawa manfaat. Pendekatan ini dinilai relevan di era media sosial yang dipenuhi beragam opini dan komentar setiap hari.