Meremehkan perasaan anak sering dianggap sebagai cara sederhana agar mereka tidak terlalu larut dalam masalah. Padahal, respons tersebut dapat memengaruhi perkembangan emosional anak. Ketika perasaannya terus dianggap sepele, anak bisa merasa tidak didengar atau dipahami.
Kebiasaan seperti mengatakan “jangan lebay”, “begitu saja menangis”, atau “kamu terlalu sensitif” dapat membuat anak enggan bercerita. Anak kemudian belajar menyimpan emosi karena merasa mengungkapkannya tidak akan mendapatkan respons positif. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat memengaruhi kemampuan anak mengelola emosinya.
Salah satu perubahan yang mungkin terlihat adalah anak menjadi lebih pendiam. Mereka dapat memilih menarik diri daripada menceritakan masalah kepada orang tua. UNICEF menjelaskan, komunikasi yang buruk dapat membuat anak merasa permasalahannya diremehkan. Kondisi itu bisa memicu sikap defensif, frustrasi, kesepian, atau perasaan terluka.
Tekanan emosional juga dapat mengganggu konsentrasi anak. Ketika pikiran dipenuhi kekhawatiran atau perasaan negatif, perhatian terhadap kegiatan sekolah bisa ikut terganggu. American Psychological Association mencatat, kesedihan berkepanjangan dapat berkaitan dengan penarikan diri dan kesulitan berkonsentrasi.
Dampaknya tidak selalu muncul dalam bentuk anak yang diam. Sebagian anak justru dapat menunjukkan kemarahan, perilaku impulsif, atau sulit mengendalikan emosinya. Penelitian menemukan hubungan antara invalidasi emosi orang tua dengan kesulitan regulasi emosi pada remaja. Kesulitan tersebut kemudian berkaitan dengan masalah internal maupun perilaku eksternal.
Karena itu, orang tua sebaiknya tidak langsung menilai atau menghakimi emosi anak. Dengarkan ceritanya dan akui bahwa perasaan tersebut memang sedang dialaminya. UNICEF menyarankan orang tua menggunakan respons empatik seperti memahami bahwa situasinya memang terasa sulit.
Validasi bukan berarti orang tua harus selalu menyetujui tindakan anak. Orang tua tetap dapat memberikan batasan sambil menghargai perasaan yang sedang dirasakan. Jika perubahan perilaku berlangsung lama dan mengganggu sekolah atau hubungan sosial, konsultasi profesional dapat dipertimbangkan.