Fenomena Wargai RI Ramai Kumpul Kebo, Daerah Ini Terbanyak

0 0
Read Time:1 Minute, 12 Second

Fenomena Kumpul Kebo atau kohabitasi, yakni pasangan yang tinggal bersama tanpa ikatan pernikahan, kembali menjadi perhatian publik. Sejumlah penelitian menunjukkan praktik tersebut mulai meningkat di Indonesia, meski masih dianggap bertentangan dengan norma sosial, budaya, dan agama yang dianut sebagian besar masyarakat.

Berdasarkan penelitian The Untold Story of Cohabitation yang mengolah data Pendataan Keluarga 2021 (PK21) milik BKKBN, praktik kohabitasi paling banyak ditemukan di wilayah Indonesia bagian timur. Salah satu daerah dengan angka tertinggi adalah Kota Manado, Sulawesi Utara.

Peneliti Ahli Muda BRIN, Yulinda Nurul Aini, mengungkapkan sekitar 0,6 persen penduduk Kota Manado tercatat hidup dalam hubungan kohabitasi. Dari jumlah tersebut, 24,3 persen berusia di bawah 30 tahun, sementara 83,7 persen memiliki tingkat pendidikan SMA atau lebih rendah.

Penelitian juga menemukan beberapa alasan pasangan memilih hidup bersama tanpa menikah. Faktor ekonomi menjadi penyebab utama karena biaya pernikahan dinilai cukup tinggi. Selain itu, sebagian pasangan menganggap kohabitasi lebih sederhana dibandingkan harus menjalani proses administrasi pernikahan maupun perceraian.

Selain faktor ekonomi, perubahan cara pandang terhadap hubungan juga memengaruhi tren tersebut. Sebagian anak muda memandang pernikahan sebagai institusi yang sarat aturan dan tanggung jawab. Sebaliknya, mereka menganggap hidup bersama dapat menjadi tahap untuk saling mengenal sebelum memutuskan menikah.

Meski demikian, para peneliti mengingatkan bahwa kohabitasi memiliki sejumlah konsekuensi. Perempuan dan anak dinilai menjadi pihak yang paling rentan karena hubungan tersebut tidak memiliki perlindungan hukum yang sama seperti pernikahan resmi, termasuk terkait nafkah, warisan, hak asuh anak, dan pembagian harta jika hubungan berakhir.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %