Singapore Airlines Group menghadapi lonjakan biaya bahan bakar pada kuartal pertama tahun fiskal 2026/2027. Namun, permintaan perjalanan udara tetap menunjukkan kinerja kuat. Singapore Airlines dan Scoot mengangkut rekor 10,9 juta penumpang selama April hingga Juni 2026. Jumlah tersebut meningkat 6,3 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.
Kinerja penumpang membantu pendapatan grup mencapai rekor S$5,71 miliar selama periode tersebut. Pendapatan meningkat 19,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Imbal hasil penumpang juga naik sekitar 12 persen berkat kuatnya permintaan perjalanan. Sementara pendapatan kargo meningkat 33,5 persen menjadi S$708 juta.
Meski pendapatan mencapai rekor, biaya bahan bakar memberikan tekanan besar terhadap kinerja keuangan. Biaya bahan bakar bersih melonjak 78,5 persen menjadi sekitar S$2,25 miliar. Harga avtur meningkat setelah konflik Timur Tengah pecah pada 28 Februari 2026. Biaya bahan bakar sebelum lindung nilai bahkan meningkat lebih dari dua kali lipat.
Tekanan tersebut membuat grup mencatat kerugian bersih S$76 juta pada kuartal yang berakhir Juni 2026. Setahun sebelumnya, perusahaan masih membukukan laba bersih sebesar S$186 juta. Laba operasional juga merosot 73,8 persen menjadi S$106 juta. Kinerja turut terbebani kerugian S$42 juta dari kepemilikan 25,1 persen pada Air India.
Meski menghadapi tekanan biaya, permintaan perjalanan udara dan kargo masih dinilai kuat. Singapore Airlines memperingatkan konflik berkepanjangan dapat memengaruhi perdagangan, rantai pasokan, dan kondisi ekonomi global. Harga bahan bakar juga tetap menjadi risiko penting bagi industri penerbangan. Namun, rekor 10,9 juta penumpang menunjukkan permintaan perjalanan masih bertahan di tengah kenaikan biaya operasional.