Kemampuan berbicara setiap anak berkembang dengan kecepatan yang berbeda-beda sesuai usianya. Namun, keterlambatan bicara tetap perlu diperhatikan agar penyebabnya dapat segera diketahui. Ikatan Dokter Anak Indonesia menyarankan orang tua memantau tahapan perkembangan bahasa sejak dini. Penanganan yang cepat dapat meningkatkan peluang keberhasilan terapi jika memang diperlukan. Karena itu, orang tua sebaiknya tidak menganggap telat bicara sebagai kondisi yang pasti akan membaik sendiri.
Penyebab pertama adalah gangguan pendengaran yang membuat anak sulit meniru suara di sekitarnya. Penyebab kedua berkaitan dengan keterlambatan perkembangan bahasa atau gangguan perkembangan secara umum. Anak dengan gangguan spektrum autisme juga dapat mengalami keterlambatan dalam kemampuan berkomunikasi. Selain itu, gangguan pada otot atau struktur mulut dapat memengaruhi kemampuan berbicara. Faktor genetik juga diketahui berperan pada sebagian kasus keterlambatan bicara.
Kurangnya interaksi dengan orang tua turut memengaruhi perkembangan kemampuan bahasa anak. Anak membutuhkan komunikasi dua arah secara rutin untuk memperkaya kosakata dan melatih pengucapan. Orang tua dianjurkan sering mengajak anak berbicara, membaca buku, dan bernyanyi bersama. Batasi penggunaan gawai secara berlebihan karena dapat mengurangi interaksi langsung. American Academy of Pediatrics juga menganjurkan pendampingan saat anak menggunakan media digital.
Segera konsultasikan kepada dokter jika anak menunjukkan tanda keterlambatan sesuai tahapan usianya. Dokter dapat melakukan pemeriksaan untuk mengetahui penyebab yang mendasarinya. Jika diperlukan, anak akan dirujuk menjalani terapi wicara atau pemeriksaan lanjutan. Penanganan sejak dini terbukti memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan menunggu terlalu lama. Dukungan keluarga dan stimulasi yang konsisten menjadi kunci membantu perkembangan kemampuan berbicara anak.