Hubungan orang tua dan anak sangat dipengaruhi oleh kualitas komunikasi dalam kehidupan sehari-hari. Anak cenderung terbuka ketika merasa didengar, dihargai, dan tidak dihakimi. Sebaliknya, kebiasaan komunikasi yang kurang sehat dapat membuat anak memilih memendam perasaan. Sejumlah penelitian menegaskan keterbukaan orang tua berperan penting dalam membangun kepercayaan, empati, dan ketahanan emosional anak.
Salah satu kebiasaan yang perlu dihindari adalah langsung memarahi atau menghakimi saat anak mulai bercerita. Membandingkan anak dengan saudara atau teman juga dapat menurunkan rasa percaya dirinya. Selain itu, terlalu sering mengkritik, memotong pembicaraan, atau mengabaikan perasaan anak membuat mereka merasa tidak aman. Akibatnya, anak lebih memilih menyimpan masalah daripada mencari dukungan dari orang tua.
Orang tua juga perlu menghindari kebiasaan melanggar privasi tanpa alasan yang jelas. Sikap tidak konsisten antara ucapan dan tindakan dapat mengurangi kepercayaan anak terhadap orang tua. Penelitian menunjukkan anak lebih memperhatikan perilaku nyata dibandingkan sekadar nasihat yang disampaikan. Karena itu, keteladanan menjadi bagian penting dalam membangun hubungan yang sehat.
Psikolog menyarankan orang tua membiasakan komunikasi dua arah dengan penuh empati dan kesabaran. Dengarkan cerita anak hingga selesai sebelum memberikan tanggapan atau solusi. Validasi perasaannya meski orang tua belum tentu setuju dengan tindakannya. Kebiasaan sederhana tersebut membantu anak merasa dihargai dan lebih percaya kepada orang tua. Hubungan yang dilandasi rasa aman akan membuat anak lebih terbuka menghadapi berbagai tantangan selama proses tumbuh kembangnya.