Nyeri pinggang sering dianggap sebagai akibat kelelahan, salah posisi duduk, atau aktivitas fisik yang berlebihan. Padahal, rasa nyeri tersebut juga dapat menjadi tanda gangguan pada ginjal. Karena letaknya berada di bagian belakang tubuh, nyeri ginjal kerap disalahartikan sebagai nyeri otot biasa. Dokter mengingatkan masyarakat untuk mengenali perbedaan keduanya agar penanganan tidak terlambat. Mendeteksi penyakit ginjal sejak dini dapat membantu mencegah kerusakan organ yang lebih serius.
Nyeri akibat gangguan ginjal umumnya muncul di sisi kanan atau kiri punggung, tepat di bawah tulang rusuk. Rasa sakit dapat menjalar ke perut bagian bawah, pangkal paha, atau selangkangan. Berbeda dengan nyeri otot, nyeri ginjal biasanya tidak membaik hanya dengan mengubah posisi tubuh. Keluhan tersebut juga dapat disertai demam, menggigil, mual, atau muntah apabila penyebabnya adalah infeksi ginjal. Pada kasus batu ginjal, nyeri sering muncul secara tiba-tiba dengan intensitas sangat hebat.
Gangguan ginjal juga dapat menimbulkan perubahan saat buang air kecil. Penderita mungkin mengalami nyeri ketika berkemih, frekuensi buang air kecil meningkat, atau urine bercampur darah. Warna urine dapat berubah menjadi keruh, gelap, atau berbau menyengat. Sebagian pasien juga mengalami pembengkakan pada kaki, pergelangan kaki, atau wajah akibat penurunan fungsi ginjal. Gejala tersebut sebaiknya tidak diabaikan karena memerlukan pemeriksaan medis lebih lanjut.
Apabila nyeri pinggang berlangsung beberapa hari, semakin berat, atau disertai keluhan saluran kemih, segera periksakan diri ke dokter. Pemeriksaan fisik, tes urine, tes darah, hingga pencitraan dapat membantu memastikan penyebab keluhan. Penanganan yang cepat sangat penting untuk mencegah komplikasi, terutama jika gangguan disebabkan infeksi atau batu ginjal. Menjaga asupan cairan, menerapkan pola makan sehat, dan tidak menahan buang air kecil juga menjadi langkah sederhana untuk membantu menjaga kesehatan ginjal.