Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa pada musim panas 2026 mulai mengubah kebiasaan wisatawan dalam memilih destinasi liburan. Suhu di sejumlah negara seperti Spanyol, Prancis, Jerman, Italia, dan Portugal bahkan menembus 40 derajat Celsius. Kondisi tersebut memicu gangguan transportasi, penutupan sejumlah objek wisata, hingga meningkatnya risiko kesehatan bagi wisatawan. Akibatnya, banyak pelancong kini mempertimbangkan kembali waktu dan lokasi liburan mereka. Tren baru ini menunjukkan bahwa faktor iklim semakin memengaruhi industri pariwisata global.
Alih-alih berlibur ke kawasan Mediterania saat puncak musim panas, wisatawan mulai beralih ke daerah yang memiliki suhu lebih sejuk. Tren yang dikenal sebagai coolcation atau alpine summer semakin populer sepanjang 2026. Wisata pegunungan di Swiss, Austria, Slovenia, hingga kawasan Alpen Prancis mengalami peningkatan minat. Data Google Trends menunjukkan pencarian mengenai “alpine summer” naik sekitar 82 persen dibanding tahun sebelumnya. Selain cuaca yang lebih nyaman, wisatawan juga ingin menghindari kepadatan pengunjung di destinasi pantai populer.
Perusahaan perjalanan juga mulai menyesuaikan strategi menghadapi perubahan tersebut. Intrepid Travel melaporkan semakin banyak wisatawan memilih berlibur pada musim semi atau awal musim gugur dibanding Juli dan Agustus. Destinasi di Eropa Utara pun semakin diminati karena menawarkan suhu yang lebih bersahabat selama musim panas. Operator tur juga menyesuaikan jadwal perjalanan dengan mengurangi aktivitas luar ruangan pada siang hari dan memperbanyak kegiatan di dalam ruangan.
Para ahli memperkirakan perubahan pola wisata ini akan terus berlanjut seiring meningkatnya frekuensi gelombang panas akibat perubahan iklim. Wisatawan kini tidak hanya mempertimbangkan harga dan atraksi, tetapi juga kondisi cuaca saat menentukan tujuan liburan. Industri pariwisata pun didorong untuk beradaptasi melalui penyediaan fasilitas pendingin, penyesuaian jadwal wisata, serta promosi destinasi dengan iklim yang lebih nyaman. Tren tersebut menunjukkan bahwa perubahan iklim mulai membentuk cara masyarakat menikmati perjalanan, terutama selama musim panas di Eropa.