Pemerintah terus mendorong peningkatan investasi sektor pariwisata sebagai salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi pada kuartal ketiga 2026. Langkah ini dilakukan untuk memperkuat daya saing destinasi wisata sekaligus meningkatkan kontribusi sektor pariwisata terhadap devisa negara. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, pariwisata dinilai memiliki potensi besar sebagai sumber pertumbuhan baru melalui peningkatan kunjungan wisatawan, investasi, dan penciptaan lapangan kerja.
Kementerian Pariwisata sebelumnya menetapkan target investasi pariwisata sebesar Rp63,5 triliun sepanjang 2026. Investasi tersebut difokuskan pada tiga destinasi regeneratif dan 10 Destinasi Pariwisata Prioritas, termasuk Danau Toba, Borobudur, Mandalika, Labuan Bajo, Likupang, Bromo-Tengger-Semeru, Wakatobi, Morotai, Raja Ampat, dan Tanjung Kelayang. Pemerintah berharap pemerataan investasi dapat mempercepat pengembangan infrastruktur, fasilitas wisata, dan kualitas layanan di berbagai daerah.
Selain investasi fisik, pemerintah juga mendorong transformasi digital, penguatan industri Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE), serta peningkatan kualitas sumber daya manusia di sektor pariwisata. Langkah tersebut diharapkan mampu menarik lebih banyak investor sekaligus meningkatkan daya saing Indonesia di pasar pariwisata internasional. Pengembangan ekosistem pariwisata yang berkelanjutan juga menjadi fokus agar manfaat ekonomi dapat dirasakan masyarakat lokal.
Pemerintah optimistis target investasi dapat tercapai melalui kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, pelaku usaha, dan investor. Perbaikan iklim investasi serta peningkatan konektivitas antardestinasi juga terus dilakukan untuk mendukung pertumbuhan sektor ini. Dengan strategi tersebut, pariwisata diharapkan semakin berperan sebagai penghasil devisa, pembuka lapangan kerja, dan motor penggerak ekonomi nasional sepanjang 2026.