Poster promosi film horor The Mummy dilarang dipasang di ruang publik Inggris, termasuk stasiun bawah tanah London. Keputusan tersebut diambil oleh Advertising Standards Authority (ASA) setelah menerima sekitar 30 pengaduan dari masyarakat. Banyak pelapor menilai gambar pada poster terlalu mengganggu, terutama bagi anak-anak dan keluarga yang melihatnya di ruang publik. Kasus ini menjadi sorotan karena melibatkan salah satu kampanye promosi film horor terbesar tahun ini.
Poster yang dipermasalahkan menampilkan wajah seorang perempuan bermata bengkak dengan penampilan menyerupai mumi. ASA menilai visual tersebut memberikan kesan realistis seperti jasad anak yang telah meninggal. Regulator juga mencatat iklan dipasang di lokasi yang dapat dilihat anak-anak, termasuk area dekat tempat penitipan anak. Karena itu, poster dianggap melanggar aturan periklanan mengenai materi yang berpotensi menimbulkan ketakutan atau tekanan emosional.
Warner Bros. sebagai distributor film membela kampanye tersebut. Perusahaan menyatakan karakter dalam poster adalah “mumi yang hidup” dan bukan gambaran jenazah anak. Warner Bros. juga menegaskan materi promosi telah disusun secara bertanggung jawab dan tidak dimaksudkan untuk menimbulkan ketakutan berlebihan. Meski demikian, ASA tetap menyimpulkan bahwa kesan visual yang muncul berpotensi mengganggu masyarakat umum.
Selain poster luar ruang, iklan televisi film tersebut juga sempat menjadi perhatian. Cuplikan iklan telah memperoleh izin tayang setelah pukul 19.30 waktu setempat melalui proses penilaian terpisah. Namun, ASA menegaskan standar untuk iklan luar ruang berbeda karena dapat dilihat semua kalangan tanpa pembatasan usia. Oleh sebab itu, larangan hanya berlaku untuk penayangan poster di ruang publik.
Keputusan ASA kembali memicu perdebatan mengenai batas kreativitas promosi film horor di ruang publik. Sebagian pihak menilai kampanye tersebut berhasil membangun suasana mencekam yang sesuai dengan genre film. Namun, pihak lain mendukung larangan tersebut demi melindungi anak-anak dan masyarakat yang tidak memilih untuk melihat materi horor saat beraktivitas sehari-hari.