Banyak orang mengira pendapat yang disampaikan dengan logis pasti mudah diterima orang lain. Kenyataannya, kritik atau nasihat sering memicu penolakan meski disampaikan dengan niat baik. Psikolog menjelaskan kondisi itu berkaitan dengan cara otak melindungi harga diri dan kebebasan seseorang. Dalam psikologi, fenomena tersebut dikenal sebagai psychological reactance atau reaksi menolak saat merasa kebebasannya terancam. Akibatnya, seseorang lebih fokus mempertahankan pendapat dibandingkan memahami masukan yang diterimanya.
Ketika seseorang menerima kritik, otak tidak selalu menganggapnya sebagai informasi biasa. Sebagian orang justru menafsirkannya sebagai serangan terhadap identitas atau kemampuan dirinya. Respons tersebut memicu sikap defensif dan membuat kritik terasa lebih menyakitkan. Kondisi itu menjelaskan mengapa seseorang mudah tersinggung meski lawan bicara tidak bermaksud menyerang. Reaksi tersebut dapat muncul di lingkungan keluarga, pekerjaan, maupun pertemanan.
Faktor lain yang memengaruhi adalah rasa tidak aman, pengalaman masa lalu, dan kepercayaan diri yang rendah. Orang dengan kecemasan tinggi cenderung lebih sensitif terhadap komentar dari orang lain. Mereka sering menganggap kritik sebagai bentuk penolakan terhadap dirinya. Akibatnya, mereka lebih mudah membalas atau menolak saran yang sebenarnya bermanfaat. Cara penyampaian yang terlalu menghakimi juga dapat memperkuat reaksi tersebut.
Para ahli menyarankan kritik disampaikan dengan empati dan pilihan kata yang menghargai lawan bicara. Memberikan ruang bagi seseorang untuk mengambil keputusan juga dapat mengurangi penolakan. Pendekatan yang tenang biasanya lebih efektif dibandingkan memaksa seseorang menerima pendapat tertentu. Mendengarkan sebelum memberi nasihat juga membantu membangun rasa saling percaya. Dengan cara itu, komunikasi menjadi lebih sehat dan peluang diterimanya masukan semakin besar.