Menerapkan positive parenting di era digital menjadi tantangan bagi banyak orang tua. Gawai sering digunakan untuk menenangkan anak saat rewel atau bosan. Kebiasaan tersebut memang praktis, tetapi berisiko mengurangi interaksi langsung dalam keluarga. Para ahli menilai positive parenting tetap dapat diterapkan tanpa bergantung pada layar. Kuncinya adalah komunikasi hangat, aturan yang konsisten, dan keterlibatan aktif orang tua dalam keseharian anak.
Salah satu tantangan terbesar ialah membatasi penggunaan gawai ketika anak melihat orang dewasa juga sering memegang ponsel. Penelitian menunjukkan anak cenderung meniru kebiasaan orang tua saat menggunakan perangkat digital. Karena itu, orang tua dianjurkan menjadi teladan dengan mengurangi penggunaan gawai ketika bersama anak. Waktu makan, bermain, dan menjelang tidur sebaiknya menjadi momen bebas layar agar interaksi keluarga semakin berkualitas.
Sebagai pengganti gawai, orang tua dapat mengajak anak membaca buku, menggambar, bermain peran, atau beraktivitas di luar rumah. Kegiatan tersebut membantu melatih kreativitas, kemampuan berbahasa, dan keterampilan sosial anak. Penelitian juga menemukan bahwa aturan penggunaan gawai yang jelas serta aktivitas alternatif yang menyenangkan mampu membantu anak mengurangi ketergantungan terhadap layar. Pendekatan ini dinilai lebih efektif dibandingkan larangan tanpa penjelasan.
Para ahli menegaskan positive parenting bukan berarti membebaskan anak tanpa batasan maupun melarang teknologi sepenuhnya. Orang tua tetap perlu menetapkan aturan yang konsisten sesuai usia anak. Gawai dapat dimanfaatkan sebagai sarana belajar dengan pendampingan dan durasi yang terukur. Pendekatan yang hangat, disertai komunikasi terbuka dan contoh positif dari orang tua, membantu anak membangun kebiasaan digital yang sehat. Dengan cara tersebut, hubungan keluarga tetap erat dan perkembangan anak dapat berlangsung secara optimal di tengah kemajuan teknologi.