Vietnam semakin agresif mengejar posisi sebagai salah satu destinasi utama pariwisata ASEAN. Negara tersebut menargetkan 25 juta kunjungan wisatawan mancanegara sepanjang 2026. Target itu didukung pertumbuhan kunjungan yang sangat kuat dalam beberapa tahun terakhir.
Pada semester pertama 2026, Vietnam menerima sekitar 12,3 juta wisatawan internasional. Angka tersebut meningkat 14,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Capaian itu membuat Vietnam berada jauh di atas Indonesia yang mencatat 7,45 juta kunjungan pada periode tersebut.
Namun, persaingan pariwisata ASEAN tidak hanya ditentukan oleh pertumbuhan semester pertama. Data ASEAN menunjukkan Vietnam mencatat 17,6 juta kunjungan pada 2025. Indonesia berada di angka 14,3 juta kunjungan. Malaysia masih memimpin dengan jumlah sekitar 24,5 juta wisatawan.
Indonesia sebenarnya memiliki modal besar untuk mengejar ketertinggalan tersebut. Sepanjang 2025, Indonesia mencatat 15,39 juta kunjungan wisatawan mancanegara. Jumlah itu meningkat 10,8 persen dibandingkan 2024. Pemerintah kemudian menetapkan target 16 hingga 17 juta kunjungan untuk 2026.
Kementerian Pariwisata juga memperkuat pasar Asia untuk menjaga pertumbuhan kunjungan. Malaysia, Singapura, Filipina, Vietnam, dan Thailand menjadi pasar prioritas kawasan ASEAN. Strategi tersebut dilakukan sambil memperkuat konektivitas penerbangan dan promosi destinasi Indonesia.
Dengan pertumbuhan Vietnam yang mencapai dua digit, persaingan pariwisata ASEAN semakin ketat. Indonesia masih unggul dalam keragaman destinasi dan pasar wisata domestik yang besar. Tantangan berikutnya adalah meningkatkan konektivitas, lama tinggal, serta belanja wisatawan. Jika strategi tersebut berjalan efektif, Indonesia masih berpeluang mengejar Vietnam sekaligus menantang dominasi Malaysia.