Gangguan stres pascatrauma atau PTSD setelah melahirkan ternyata dapat memengaruhi cara kerja otak seorang ibu. Temuan itu berasal dari penelitian terbaru yang dipimpin tim peneliti Emory University, Amerika Serikat. Penelitian menyoroti pentingnya perhatian terhadap kesehatan mental selama masa nifas. Selama ini, fokus penanganan lebih banyak tertuju pada depresi dan kecemasan pascamelahirkan.
Peneliti mengamati interaksi ibu dengan bayi berusia enam hingga 12 minggu. Sekitar satu hingga dua minggu kemudian, peserta menjalani pemeriksaan functional magnetic resonance imaging atau fMRI. Pemeriksaan dilakukan sambil memperdengarkan rekaman tangisan bayi mereka sendiri. Tujuannya untuk melihat aktivitas otak ketika ibu merespons kebutuhan bayinya.
Hasil penelitian menunjukkan ibu yang lebih sensitif memiliki aktivitas lebih tinggi pada bagian insula. Wilayah otak tersebut berperan mengenali sinyal emosional dan sensasi tubuh. Sebaliknya, ibu dengan gejala PTSD lebih tinggi menunjukkan aktivitas lebih rendah pada insula, amigdala, dan ventromedial prefrontal cortex. Ketiga bagian otak itu berperan mengenali emosi, mendeteksi ancaman, dan mengatur respons emosional.
Meski demikian, peneliti menegaskan temuan tersebut bukan berarti ibu dengan PTSD tidak mampu mengasuh anak dengan baik. Gejala trauma hanya dapat membuat proses pengasuhan menjadi lebih menantang, terutama saat menghadapi kurang tidur dan perubahan hormon. Peneliti menyarankan skrining PTSD dilakukan secara rutin selama kehamilan maupun setelah persalinan. Penanganan dini melalui terapi berbasis bukti dinilai penting untuk mendukung kesehatan ibu, perkembangan anak, dan hubungan emosional keduanya.