Tantrum merupakan luapan emosi yang umum terjadi pada anak, terutama usia satu hingga empat tahun. Kondisi ini biasanya muncul karena anak belum mampu mengungkapkan perasaan dengan baik. Ikatan Dokter Anak Indonesia menjelaskan tantrum adalah bagian dari perkembangan emosi yang masih berlangsung. Orang tua tidak perlu panik, tetapi harus merespons dengan cara yang tepat. Pendekatan yang tenang dapat membantu anak belajar mengelola emosinya secara bertahap.
Psikolog menyarankan orang tua tetap tenang saat anak mulai mengalami tantrum. Hindari membentak atau menghukum anak karena tindakan tersebut dapat memperburuk situasi. Pastikan anak berada di tempat yang aman agar tidak melukai dirinya sendiri. Setelah itu, dampingi anak tanpa memaksanya segera berhenti menangis. Kehadiran orang tua membuat anak merasa lebih aman ketika emosinya sedang tidak terkendali.
Orang tua juga dianjurkan membantu anak mengenali emosi yang sedang dirasakan. Gunakan kalimat sederhana agar anak memahami bahwa perasaannya diterima. Setelah anak lebih tenang, ajak berbicara mengenai penyebab tantrum yang terjadi. Berikan pilihan sederhana agar anak belajar mengambil keputusan dengan baik. Psikolog menilai cara ini membantu anak mengembangkan kemampuan mengatur emosi sejak dini.
Tantrum bukan tanda anak nakal atau gagal dididik oleh orang tua. Kondisi tersebut merupakan bagian dari proses belajar mengenali dan mengendalikan emosi. Orang tua sebaiknya tetap konsisten menerapkan aturan yang jelas di rumah. Berikan pujian ketika anak berhasil menenangkan diri atau mengungkapkan perasaannya dengan baik. Jika tantrum terjadi sangat sering atau disertai perilaku yang membahayakan, segera konsultasikan dengan dokter atau psikolog anak. (Sumber: Ikatan Dokter Anak Indonesia, American Academy of Pediatrics)