Tingkat stres kerja di kawasan Asia Tenggara masih menjadi perhatian berdasarkan survei terbaru Gallup. Survei tersebut mengukur persentase pekerja yang mengaku mengalami stres pada sebagian besar waktu sehari sebelumnya. Hasilnya menunjukkan adanya perbedaan cukup besar di antara negara-negara ASEAN. Faktor seperti beban kerja, tekanan ekonomi, dan lingkungan kerja menjadi penyebab yang memengaruhi tingkat stres pekerja. Data ini memberikan gambaran mengenai kondisi kesejahteraan tenaga kerja di kawasan.
Filipina menempati posisi pertama dengan tingkat stres pekerja mencapai 50 persen. Myanmar berada di peringkat kedua dengan angka 47 persen. Singapura menyusul di posisi ketiga dengan tingkat stres sebesar 43 persen. Selanjutnya terdapat Kamboja sebesar 34 persen, Laos 26 persen, dan Thailand 25 persen. Malaysia mencatat angka 20 persen sehingga berada di bawah rata-rata kawasan ASEAN.
Indonesia berada di peringkat kedelapan dengan tingkat stres pekerja sebesar 14 persen. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan rata-rata ASEAN yang mencapai 25 persen. Vietnam menjadi negara dengan tingkat stres pekerja terendah di kawasan, yakni 13 persen. Gallup juga mencatat tingkat stres pekerja Indonesia turun dibandingkan rata-rata tiga tahun sebelumnya. Hasil ini menunjukkan kondisi psikologis pekerja Indonesia relatif lebih baik dibandingkan sebagian besar negara tetangga.
Meski demikian, rendahnya tingkat stres bukan berarti tantangan di dunia kerja telah sepenuhnya teratasi. Organisasi Kesehatan Dunia menyebut beban kerja berlebihan, jam kerja panjang, dan minimnya kendali pekerjaan dapat memengaruhi kesehatan mental. Karena itu, perusahaan dan pemerintah tetap didorong menciptakan lingkungan kerja yang sehat. Upaya tersebut penting untuk menjaga produktivitas sekaligus meningkatkan kesejahteraan pekerja di masa depan.