Diet tradisional Jepang selama ini dikenal sebagai salah satu pola makan sehat di dunia. Menu hariannya umumnya terdiri dari ikan, produk kedelai, sayuran, rumput laut, jamur, nasi, miso, dan teh hijau. Namun, sebuah penelitian terbaru justru memunculkan pertanyaan mengenai kaitan pola makan tersebut dengan depresi. Hasilnya menunjukkan hubungan yang lebih kompleks daripada sekadar jenis makanan yang dikonsumsi.
Penelitian yang melibatkan sekitar 12.500 pekerja di Jepang menemukan hal menarik. Orang yang lebih patuh menjalani pola makan tradisional Jepang justru memiliki prevalensi gejala depresi yang lebih rendah. Temuan itu juga berlaku pada versi diet Jepang yang dimodifikasi dengan tambahan buah, sayuran segar, dan produk susu.
Para peneliti menduga manfaat tersebut berasal dari kombinasi berbagai makanan bergizi. Ikan mengandung asam lemak omega-3 yang baik untuk otak. Produk kedelai, sayuran, dan teh hijau juga kaya antioksidan. Nutrisi tersebut diduga membantu menjaga kesehatan otak dan mendukung fungsi saraf. Namun, penelitian ini hanya menunjukkan hubungan, bukan sebab-akibat.
Meski demikian, para ahli mengingatkan bahwa depresi tidak dipengaruhi pola makan saja. Faktor seperti stres, kualitas tidur, aktivitas fisik, kondisi ekonomi, dan riwayat kesehatan mental juga berperan penting. Karena itu, pola makan sehat sebaiknya dipandang sebagai salah satu bagian dari upaya menjaga kesehatan mental, bukan sebagai pengobatan utama.
Penelitian lain pada 2026 juga menemukan konsumsi natto, makanan fermentasi khas Jepang, berkaitan dengan lebih rendahnya gejala depresi pada lansia. Temuan tersebut semakin memperkuat dugaan bahwa makanan tradisional Jepang dapat mendukung kesehatan mental. Meski begitu, peneliti menegaskan masih diperlukan studi lanjutan untuk memastikan hubungan tersebut.