Kebiasaan membersihkan sela gigi menggunakan benang gigi atau flossing ternyata tidak hanya menjaga kesehatan mulut. Sejumlah penelitian menunjukkan kebiasaan sederhana ini juga berpotensi menurunkan risiko penyakit jantung dan stroke. Kondisi tersebut dinilai dapat mendukung kesehatan tubuh secara menyeluruh. Karena itu, dokter menyebut flossing sebagai bagian penting dari gaya hidup sehat.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Stroke melibatkan 6.278 peserta dan berlangsung selama 25 tahun. Hasilnya menunjukkan peserta yang rutin melakukan flossing memiliki risiko stroke iskemik lebih rendah. Risiko stroke akibat bekuan darah dari jantung juga turun hingga 44 persen. Selain itu, risiko fibrilasi atrium berkurang sekitar 12 persen dibandingkan mereka yang tidak rutin flossing.
Menurut para peneliti, flossing membantu menghilangkan sisa makanan dan plak yang tidak terjangkau sikat gigi. Kebiasaan tersebut dapat mengurangi peradangan pada gusi akibat bakteri. Peradangan kronis diketahui berkaitan dengan meningkatnya risiko penyakit kardiovaskular. Meski begitu, para ahli menegaskan flossing bukan satu-satunya cara mencegah penyakit jantung atau memperpanjang usia. Kebiasaan ini tetap perlu didukung pola makan sehat, olahraga, dan pemeriksaan kesehatan rutin.
Dokter gigi menyarankan flossing dilakukan setidaknya sekali sehari, terutama sebelum tidur malam. Benang gigi digunakan secara perlahan agar tidak melukai gusi. Flossing juga sebaiknya disertai menyikat gigi menggunakan pasta berfluoride dan berkumur bila diperlukan. Dengan menjaga kesehatan mulut secara konsisten, risiko infeksi dan peradangan dapat ditekan. Kebiasaan sederhana tersebut berpotensi memberikan manfaat jangka panjang bagi kesehatan jantung dan kualitas hidup.