Kimpul menjadi perbincangan di media sosial setelah banyak warganet mengenalnya sebagai alternatif sumber karbohidrat lokal. Sekilas, umbi ini memang mirip talas sehingga sering tertukar. Padahal, kimpul merupakan tanaman berbeda yang memiliki ciri khas tersendiri, baik dari bentuk umbi, tekstur, maupun cara pengolahannya. Kimpul juga dikenal dengan nama ilmiah Xanthosoma violaceum dan termasuk keluarga talas-talasan.
Perbedaan paling mudah terlihat pada bentuk umbinya. Kimpul menghasilkan banyak umbi anak yang tumbuh mengelilingi umbi induk dalam satu rumpun. Sebaliknya, talas umumnya memiliki satu umbi utama berukuran lebih besar. Setelah dimasak, kimpul bertekstur lebih lembut dan sedikit berlendir, sedangkan talas cenderung lebih padat. Karena itu, talas lebih sering diolah menjadi keripik atau kue, sementara kimpul banyak direbus, dikukus, atau dijadikan sayur tradisional.
Kimpul juga berbeda dengan ubi jalar dan singkong. Ubi jalar memiliki rasa lebih manis serta daging berwarna putih, kuning, jingga, atau ungu. Singkong memiliki tekstur lebih padat dengan kandungan pati tinggi dan banyak dimanfaatkan menjadi tepung maupun aneka camilan. Kimpul memiliki cita rasa lebih netral sehingga mudah dipadukan dengan berbagai bumbu masakan tradisional. Kandungan utamanya berupa karbohidrat, disertai vitamin dan mineral.
Popularitas kimpul meningkat seiring kampanye diversifikasi pangan lokal. Banyak warganet mulai membagikan pengalaman mengolah kimpul sebagai pengganti nasi maupun camilan sehat. Meski demikian, umbi ini dapat menimbulkan rasa gatal jika tidak diolah dengan benar. Rasa tersebut berasal dari kristal kalsium oksalat dan dapat dikurangi melalui pencucian serta perebusan hingga matang. Dengan karakter uniknya, kimpul dinilai berpotensi menjadi salah satu pangan lokal yang kembali diminati masyarakat.