Mimpi Punya Rumah Kian Memudar, Banyak Gen Z Menyerah Hadapi Harga Properti yang Melambung

0 0
Read Time:1 Minute, 6 Second

Memiliki rumah sendiri kini menjadi impian yang semakin sulit diwujudkan bagi banyak generasi Z. Kenaikan harga properti yang lebih cepat dibandingkan pertumbuhan pendapatan membuat sebagian anak muda mulai pesimistis dapat membeli rumah. Kondisi tersebut memicu anggapan bahwa kepemilikan hunian semakin jauh dari jangkauan, terutama bagi mereka yang baru memasuki dunia kerja.

Sejumlah survei menunjukkan persoalan utama bukan sekadar pola konsumsi generasi muda. Keterbatasan dana, kenaikan harga rumah, serta tingginya biaya tambahan seperti uang muka, pajak, asuransi, dan biaya administrasi menjadi hambatan terbesar. Banyak pekerja muda juga menghadapi tantangan memperoleh Kredit Pemilikan Rumah (KPR), terutama mereka yang berstatus pekerja lepas atau memiliki penghasilan tidak tetap.

Para pengamat menilai persoalan tersebut dipengaruhi faktor struktural. Harga rumah terus meningkat setiap tahun, sementara pertumbuhan gaji tidak mampu mengimbanginya. Di kawasan perkotaan, keterbatasan lahan turut mendorong harga tanah dan properti semakin tinggi. Akibatnya, generasi muda membutuhkan waktu lebih lama untuk mengumpulkan uang muka maupun memenuhi syarat pembiayaan perumahan.

Meski demikian, sejumlah pihak menilai peluang memiliki rumah tetap terbuka jika didukung kebijakan yang tepat. Pemerintah dan perbankan didorong menghadirkan skema KPR yang lebih fleksibel bagi pekerja muda, termasuk tenor lebih panjang, biaya awal lebih ringan, dan akses pembiayaan yang sesuai dengan karakter pekerjaan masa kini. Langkah tersebut diharapkan mampu mengembalikan optimisme generasi Z untuk memiliki hunian sendiri di tengah tantangan pasar properti yang terus berkembang.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %