Penggunaan gawai pada anak tidak cukup diawasi hanya dari lamanya waktu menatap layar. Dokter anak mengingatkan bahwa kualitas konten, tujuan penggunaan, serta keterlibatan orang tua sama pentingnya dalam menentukan dampak screen time terhadap tumbuh kembang anak. Paparan layar mencakup televisi, ponsel, tablet, hingga komputer, bukan hanya telepon pintar.
Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), risiko muncul ketika anak mengakses konten yang tidak sesuai usia atau menggunakan gawai tanpa pendampingan. Dampaknya dapat berupa gangguan tidur, penurunan aktivitas fisik, obesitas, hingga hambatan perkembangan bahasa dan kemampuan sosial. Orang tua disarankan tidak sekadar menemani, tetapi aktif berdiskusi mengenai apa yang ditonton dan menghubungkannya dengan aktivitas di dunia nyata.
Pakar neurologi anak juga menekankan pentingnya interaksi dua arah selama screen time. Anak sebaiknya tidak dibiarkan menonton sendirian dalam waktu lama. Selain memilih konten edukatif, orang tua perlu memastikan anak tetap memiliki waktu bermain, berinteraksi langsung, berolahraga, dan tidur yang cukup. Keseimbangan aktivitas tersebut berperan penting dalam mendukung perkembangan otak dan kesehatan mental anak.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa dampak penggunaan layar tidak hanya ditentukan oleh durasi, tetapi juga pola penggunaan dan kualitas pendampingan. Karena itu, para ahli menyarankan keluarga membuat aturan penggunaan gawai yang konsisten sesuai usia anak. Pendekatan tersebut dinilai lebih efektif dibandingkan sekadar membatasi waktu penggunaan, sekaligus membantu anak membangun kebiasaan digital yang sehat sejak dini.