Rasa syukur menjadi salah satu kebiasaan yang berkaitan dengan kesehatan mental dan kebahagiaan seseorang. Psikolog menjelaskan bersyukur bukan berarti mengabaikan masalah atau kesulitan hidup. Sebaliknya, rasa syukur membantu seseorang melihat hal-hal positif di tengah berbagai tantangan. Sejumlah penelitian menunjukkan kebiasaan bersyukur dapat meningkatkan kesejahteraan psikologis dan mengurangi tingkat stres. Latihan sederhana yang dilakukan secara konsisten dapat memberikan manfaat dalam jangka panjang.
Salah satu cara melatih rasa syukur adalah menuliskan tiga hal yang disyukuri setiap hari. Kebiasaan ini membantu otak lebih peka terhadap pengalaman positif yang sering terlewatkan. Psikolog juga menyarankan meluangkan waktu untuk menikmati momen kecil bersama keluarga atau teman. Mengucapkan terima kasih kepada orang lain secara tulus juga dapat memperkuat hubungan sosial. Selain itu, membatasi kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain membantu seseorang lebih menghargai apa yang dimiliki.
Cara berikutnya adalah mengubah sudut pandang ketika menghadapi kesulitan. Psikolog menyebut setiap tantangan dapat menjadi kesempatan untuk belajar dan berkembang. Pendekatan tersebut tidak menghilangkan rasa sedih, tetapi membantu seseorang lebih tangguh menghadapi tekanan. Latihan mindfulness atau kesadaran penuh juga dapat meningkatkan kemampuan menikmati momen saat ini. Aktivitas seperti meditasi ringan, berjalan santai, atau menarik napas secara perlahan membantu menenangkan pikiran. Kebiasaan tersebut membuat seseorang lebih mudah mengenali hal-hal yang patut disyukuri setiap hari.
Penelitian dalam bidang psikologi positif menunjukkan rasa syukur berkaitan dengan tingkat kepuasan hidup yang lebih tinggi. Orang yang rutin melatih rasa syukur juga cenderung memiliki hubungan sosial yang lebih baik. Mereka umumnya lebih optimistis, memiliki kualitas tidur yang lebih baik, dan lebih mampu mengelola emosi. Meski demikian, rasa syukur bukan pengganti penanganan gangguan kesehatan mental. Jika kesedihan atau kecemasan terus berlangsung, berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater tetap menjadi langkah yang tepat.