Perut buncit sering dianggap hanya disebabkan pola makan berlebihan dan kurang berolahraga. Padahal, ahli gizi menyebut penyebabnya jauh lebih kompleks daripada dua faktor tersebut. Penumpukan lemak di area perut dipengaruhi gaya hidup, hormon, kualitas tidur, hingga tingkat stres. Faktor usia dan kondisi kesehatan tertentu juga dapat memengaruhi distribusi lemak tubuh. Karena itu, mengecilkan perut buncit membutuhkan pendekatan yang menyeluruh dan berkelanjutan.
Ahli gizi menjelaskan kurang tidur dapat meningkatkan hormon ghrelin yang memicu rasa lapar. Pada saat bersamaan, kadar hormon leptin yang mengatur rasa kenyang justru menurun. Kondisi tersebut membuat seseorang cenderung mengonsumsi makanan berkalori tinggi. Stres berkepanjangan juga meningkatkan hormon kortisol yang berkaitan dengan penumpukan lemak di area perut. Selain itu, kebiasaan duduk terlalu lama mengurangi pengeluaran energi harian sehingga lemak lebih mudah menumpuk.
Pola makan tetap memiliki peran penting dalam mengendalikan lemak perut. Konsumsi minuman manis, makanan ultra-proses, dan lemak trans dapat meningkatkan risiko obesitas sentral. Sebaliknya, makanan kaya serat, protein, serta lemak sehat membantu memberikan rasa kenyang lebih lama. Latihan kekuatan dan aktivitas aerobik juga lebih efektif jika dilakukan secara rutin. Ahli gizi mengingatkan tidak ada makanan atau olahraga tertentu yang mampu membakar lemak hanya di satu bagian tubuh.
Selain menjaga pola makan, kualitas tidur selama tujuh hingga sembilan jam perlu dipenuhi setiap malam. Aktivitas fisik sebaiknya dilakukan sedikitnya 150 menit setiap minggu sesuai anjuran Organisasi Kesehatan Dunia. Mengelola stres melalui relaksasi atau meditasi juga membantu menjaga keseimbangan hormon. Jika perut buncit disertai kenaikan berat badan yang tidak wajar, konsultasikan dengan dokter atau ahli gizi. Pemeriksaan lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya gangguan hormon atau penyakit tertentu yang memerlukan penanganan khusus.