Dusun Cikeusi di Desa Cinangsi, Kabupaten Sumedang, menyimpan kekayaan kuliner tradisional yang masih lestari hingga kini. Salah satunya adalah Gula Si Geulis, gula aren khas yang diproduksi secara tradisional oleh perajin lokal. Produk tersebut dibuat menggunakan nira pohon aren yang diolah dengan teknik turun-temurun. Proses pembuatannya tetap mempertahankan cita rasa alami tanpa bergantung pada teknologi modern.
Perajin gula aren, Tahyana, masih mengandalkan tungku kayu bakar untuk merebus nira selama berjam-jam hingga mengental. Setelah mencapai kekentalan tertentu, adonan kemudian dituangkan ke dalam cetakan sebelum mengeras secara alami. Gula Si Geulis memiliki warna cokelat gelap dengan aroma khas nira yang kuat. Nama “Si Geulis” diambil dari bahasa Sunda yang berarti cantik, menggambarkan tampilan gula yang menarik.
Keunikan lainnya terletak pada istilah tradisional yang digunakan selama proses produksi. Perajin mengenal istilah “dago” untuk adonan gula yang sangat kental menyerupai gulali. Ada pula “pacet” yang merujuk pada serpihan gula saat dilepaskan dari cetakan. Sementara itu, “kukurud” merupakan kerak gula yang menempel di wajan setelah proses pemasakan selesai. Istilah tersebut menjadi bagian dari kearifan lokal yang masih dipertahankan hingga sekarang.
Di tengah maraknya gula rafinasi, Gula Si Geulis tetap mempertahankan identitas sebagai produk tradisional khas Sumedang. Gula aren ini banyak digunakan sebagai pemanis minuman, aneka kue, hingga masakan tradisional Nusantara. Keberadaan perajin seperti Tahyana turut menjaga warisan kuliner sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat desa. Gula Si Geulis pun menjadi bukti bahwa produk lokal mampu menghadirkan cita rasa autentik yang tetap diminati berbagai kalangan.