Deteksi Kanker Payudara Sejak Dini, Kapan Perlu Mammografi dan Kapan Pakai USG?

0 0
Read Time:1 Minute, 5 Second

Mammografi dan USG sama-sama dapat membantu menemukan kelainan pada payudara. Namun, kedua pemeriksaan tersebut memiliki fungsi dan kegunaan yang berbeda. Mammografi menggunakan sinar-X untuk melihat perubahan jaringan yang belum tentu terasa sebagai benjolan. Pemeriksaan ini memiliki peran penting dalam skrining kanker payudara.

Sementara itu, USG menggunakan gelombang suara untuk menghasilkan gambaran jaringan payudara. Pemeriksaan ini sering digunakan untuk mengevaluasi benjolan yang ditemukan pada payudara. USG juga dapat membantu membedakan kista berisi cairan dan massa padat. Kementerian Kesehatan menyebut USG dapat digunakan dalam deteksi dini bila fasilitasnya tersedia.

Untuk perempuan dengan risiko rata-rata, mammografi menjadi metode skrining yang memiliki bukti kuat. USPSTF merekomendasikan mammografi setiap dua tahun bagi perempuan usia 40 hingga 74 tahun. Namun, rekomendasi pemeriksaan dapat berbeda berdasarkan usia dan kondisi kesehatan seseorang. Karena itu, keputusan sebaiknya mempertimbangkan penilaian tenaga medis.

USG juga dapat menjadi pemeriksaan tambahan dalam kondisi tertentu. Salah satunya ketika jaringan payudara memiliki kepadatan tinggi. Jaringan yang padat dapat membuat kelainan lebih sulit terlihat melalui mammografi. Dokter dapat mempertimbangkan pemeriksaan tambahan berdasarkan hasil mammografi dan kondisi pasien.

Karena itu, tidak tepat menganggap USG selalu lebih baik daripada mammografi. Keduanya memiliki peran berbeda dalam mendeteksi dan mengevaluasi kelainan payudara. Perempuan juga perlu memperhatikan perubahan seperti benjolan, perubahan kulit, atau kelainan puting. Jika menemukan tanda tersebut, pemeriksaan medis sebaiknya tidak ditunda.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %