Es kado menjadi salah satu jajanan tradisional yang membangkitkan kenangan masa kecil banyak masyarakat Indonesia. Ciri khasnya terletak pada bungkus kertas warna-warni menyerupai kado kecil. Di balik tampilannya yang sederhana, es ini memiliki cita rasa manis dan gurih yang khas. Meski kini kalah populer dibanding es krim modern, es kado masih bertahan di sejumlah daerah. Kehadirannya menjadi bukti bahwa kuliner tradisional tetap memiliki tempat di hati para penikmatnya.
Es kado umumnya dibuat dari campuran santan, gula, tepung, dan perasa alami seperti cokelat, durian, kacang hijau, atau stroberi. Adonan kemudian dimasukkan ke dalam cetakan sebelum dibekukan menggunakan campuran es batu dan garam. Proses tersebut dilakukan secara tradisional tanpa mesin pendingin modern. Bentuknya yang menyerupai potongan kue membuat sebagian orang menyebutnya sebagai es kue. Bungkus kertas berwarna cerah menjadi identitas yang mudah dikenali sejak puluhan tahun lalu.
Salah seorang penjual yang masih mempertahankan jajanan ini adalah Pak Pur di kawasan Cilincing, Jakarta Utara. Pria berusia 50 tahun itu telah berjualan es kado selama sekitar 20 tahun. Ia meneruskan usaha keluarga sambil mempertahankan resep tradisional yang diwariskan orang tuanya. Menurutnya, pelanggan berasal dari berbagai kalangan, mulai anak-anak hingga orang dewasa yang ingin bernostalgia. Konsistensi menjaga cita rasa membuat es kado tetap dicari meski persaingan kuliner semakin ketat.
Kini, es kado bukan sekadar jajanan penyegar saat cuaca panas. Makanan ini juga menjadi bagian dari warisan kuliner yang menyimpan cerita lintas generasi. Banyak orang kembali mencarinya karena ingin mengenang masa kecil bersama keluarga dan teman. Kehadirannya membuktikan kuliner sederhana mampu bertahan di tengah perubahan zaman. Es kado pun tetap menjadi simbol nostalgia yang sulit tergantikan oleh berbagai dessert modern.