Mie lethek kembali mencuri perhatian setelah diolah oleh sosok yang sebelumnya dikenal sebagai “Ibu Kimpul”. Kuliner khas Bantul ini memiliki tampilan unik dan proses pembuatan yang masih mempertahankan tradisi.
Mie lethek berasal dari Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Sentra produksinya banyak berada di Kapanewon Srandakan, terutama Kalurahan Trimurti. Nama “lethek” berasal dari bahasa Jawa yang berarti kotor atau kusam. Sebutan tersebut merujuk pada warna mi yang kecokelatan dan tidak secerah mi pada umumnya.
Warna tersebut bukan berasal dari pewarna makanan. Mie lethek dibuat menggunakan tepung tapioka dan gaplek atau singkong yang dikeringkan. Campuran bahan tersebut menghasilkan warna alami yang cenderung kecokelatan atau keabu-abuan. Teksturnya juga dikenal kenyal dengan cita rasa gurih setelah dimasak.
Keunikan lain terletak pada proses produksinya yang masih menggunakan metode tradisional. Pada proses tertentu, adonan digiling menggunakan batu silinder berbobot sekitar satu ton. Batu tersebut digerakkan menggunakan tenaga sapi untuk membantu mengolah adonan. Setelah itu, adonan melalui proses pengukusan, pengepresan, pencetakan, hingga pengeringan.
Tradisi tersebut membuat mie lethek memiliki nilai budaya yang kuat bagi masyarakat Bantul. Pemerintah mencatat mie lethek sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia sejak 2019. Penetapan tersebut tercantum dalam SK Nomor 362/M/2019 pada domain Kemahiran dan Kerajinan Tradisional.
Mie lethek juga mempunyai sejarah produksi yang panjang di Bantul. Salah satu industri rumahan di Dusun Bendo telah berkembang sejak sekitar 1940-an. Usaha tersebut kemudian diteruskan secara turun-temurun hingga generasi ketiga.
Kini, mie lethek tidak hanya dijual sebagai mi mentah untuk dimasak sendiri. Pemerintah Bantul mendorong inovasi produk agar kuliner tradisional tersebut semakin dikenal masyarakat luas. Mie lethek siap masak dengan berbagai varian juga telah dipasarkan melalui toko oleh-oleh dan marketplace.
Kehadiran “Ibu Kimpul” yang mengolah mie lethek turut memperkenalkan kuliner tradisional tersebut kepada penonton media sosial. Mie ini dapat dimasak menjadi mi goreng, mi rebus, hingga berbagai kreasi lainnya. Popularitas tersebut menjadi peluang untuk menjaga mie lethek tetap eksis di tengah perkembangan kuliner modern.