Peneliti Kyushu University, Jepang, mengembangkan kemasan makanan biodegradable menggunakan limbah kulit labu. Inovasi tersebut dirancang untuk menjaga kesegaran makanan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap plastik berbasis minyak bumi. Penelitian dipimpin tim dari Faculty of Agriculture Kyushu University. Hasil penelitian diterbitkan dalam jurnal Food Research International pada 2026.
Kulit labu diolah menjadi carbon quantum dots atau CQDs menggunakan metode hidrotermal. Partikel tersebut kemudian dicampurkan dengan carboxymethyl cellulose dan gelatin untuk membentuk lapisan kemasan biodegradable. Penambahan CQDs meningkatkan kekuatan tarik film sekitar 78 hingga 147 persen dibandingkan sampel kontrol. Material tersebut juga memiliki kemampuan menghambat paparan sinar ultraviolet.
Pada konsentrasi tiga persen, material mampu memblokir sekitar 72,5 persen sinar UV-A. Kemampuan memblokir UV-B bahkan mencapai sekitar 94,3 persen dalam pengujian laboratorium. Material juga menunjukkan aktivitas antioksidan sebesar 88,58 persen dalam pengujian DPPH. Peneliti menemukan kemasan tersebut mempunyai kemampuan melawan sejumlah mikroorganisme patogen.
Tim kemudian menguji kemasan tersebut menggunakan tomat ceri selama periode penyimpanan 20 hari. Hasilnya menunjukkan pertumbuhan mikroba dapat ditekan dan kualitas buah lebih terjaga. Kemasan juga membantu memperlambat penurunan berat dan pelunakan tomat selama penyimpanan. Namun, plastik konvensional masih lebih efektif dalam membatasi kehilangan kelembapan.
Teknologi ini masih berada dalam tahap penelitian dan belum tersedia sebagai kemasan komersial. Peneliti akan mengoptimalkan penggunaannya pada berbagai jenis makanan dan melanjutkan evaluasi keamanan. Pengembangan tersebut berpotensi mengatasi dua masalah sekaligus, yakni limbah pertanian dan sampah plastik. Kyushu University menargetkan peluang penerapan praktis teknologi ini dalam beberapa tahun mendatang.