Protein selama ini dikenal sebagai nutrisi penting untuk membangun otot, memperbaiki jaringan, dan mendukung berbagai fungsi tubuh. Namun, penelitian menunjukkan pembatasan protein tertentu berpotensi memberikan manfaat berbeda terhadap proses penuaan. Efek tersebut terutama terlihat dalam penelitian terhadap hewan dan studi metabolisme manusia. Karena itu, mengurangi protein tidak berarti menghilangkannya dari pola makan.
Penelitian pada tikus menemukan pembatasan protein dapat meningkatkan kesehatan metabolik dan memperpanjang usia hidup. Efek tersebut berkaitan dengan peningkatan hormon fibroblast growth factor 21 atau FGF21. Hormon ini berperan dalam berbagai proses metabolisme tubuh. Tikus tanpa FGF21 tidak memperoleh manfaat umur panjang serupa ketika menjalani pembatasan protein.
Studi lain menunjukkan pembatasan protein mengurangi sejumlah penanda penuaan seluler pada jaringan lemak tikus berusia tua. Peneliti juga menemukan penurunan beberapa penanda terkait pembentukan tumor dan siklus sel. Temuan tersebut kembali menunjukkan FGF21 berperan penting dalam respons tubuh terhadap pembatasan protein.
Meski menjanjikan, temuan tersebut belum berarti masyarakat harus langsung menjalani diet rendah protein. Bukti mengenai manfaat umur panjang masih banyak berasal dari penelitian hewan. Studi terhadap 6.395 manusia justru menemukan asupan protein lebih tinggi berkaitan dengan risiko kematian lebih rendah. Massa otot lebih tinggi juga dikaitkan dengan risiko kematian yang lebih rendah.
Kebutuhan protein dapat berbeda berdasarkan usia, kondisi kesehatan, berat badan, dan aktivitas fisik seseorang. Orang lanjut usia juga membutuhkan perhatian khusus karena kehilangan massa otot menjadi masalah penting selama penuaan. Karena itu, pembatasan protein ekstrem sebaiknya tidak dilakukan hanya untuk mengejar manfaat antipenuaan. Pola makan perlu tetap seimbang dan disesuaikan dengan kebutuhan tubuh masing-masing.